Editorial:
Di sebuah sudut pesisir Teluk Tomini, tepatnya di Desa Botuboluo, Kecamatan Biluhu, Kabupaten Gorontalo,dentang gong pembukaan Festival Tomini Pesona Botuboluo ke-IV pada 17 Desember 2025, menandai lebih dari sekadar awal perayaan. Ia seperti sebuah pengumuman, sebuah deklarasi lembut namun tegas, bahwa Gorontalo masih menyimpan banyak kisah yang belum terungkap dalam peta pariwisata nasional. Di sini, di balik rimbunnya pepohonan buah dan jernihnya air laut, tersembunyi sebuah potensi yang seakan sengaja diperlihara dalam kesederhanaan, menunggu momen yang tepat untuk memperkenalkan dirinya.
Roman Nasaru, Wakil Ketua DPRD Kabupaten Gorontalo, bukanlah tamu asing di festival ini. Kehadirannya yang keempat kalinya adalah sebuah kesinambungan, sebuah dukungan dan komitmen pariwisata yang diucapkan melalui kehadiran. “Ini lebih dari sekadar festival,” , “Ini adalah komitmen untuk membangunkan sang raksasa tidur pariwisata Gorontalo.”
bahwa kekayaan ini seperti raksasa yang tertidur pulas, dan desa Botuboluo mungkin adalah titik dimana ia pertama kali membuka mata.
Dan kekayaan itu terhampar dalam trilogi panorama yang hampir terlalu sempurna untuk sebuah desa. Pertama, adalah pesona bahari yang jujur. Pantainya bukanlah pantai yang dipoles untuk turis, melainkan pantai yang hidup bersama masyarakatnya. Spot diving-nya menjanjikan keintiman dengan terumbu karang, sebuah dialog langsung dengan ekosistem bawah laut yang masih malu-malu. Kedua, ketika mata memandang ke atas, bukit-bukitnya menghadirkan sebuah simfoni agrowisata. Kebun durian dan rambutan bukan sekadar perkebunan; mereka adalah lanskap hidup, sebuah warisan kuliner yang bisa dirasakan langsung dari pohonya. Dan yang ketiga, adalah langit. Uji coba paralayang tahun sebelumnya seolah membisikkan sebuah kemungkinan baru: untuk melihat semua keindahan tadi dari atas, merasakan kebebasan yang memandang Teluk Tomini sebagai sebuah lukisan alam yang utuh.
Inilah trilogi yang langka: dari bawah laut, ke daratan, hingga ke angkasa; sebuah paket komplit yang terpendam dalam diam.

Festival Tomini tahun ini dilaksanakan mulai tanggal 17 desember selama lima hari , terdapat kegiatan Fun Run-nya, lomba dayungnya, dan pesta kuliner lautnya, berfungsi seperti sebuah trailer atau preview. Ia adalah cara terbaik untuk memperkenalkan setiap elemen potensi tadi dalam bentuk kegembiraan dan kompetisi yang meriah. Setiap lomba adalah sebuah undangan: “Coba lihat apa yang bisa kami tawarkan.”
Festival Tomini IV adalah sebuah titik terang di ujung horizon pariwisata Gorontalo. Ia mengingatkan kita bahwa kadang, mutiara yang paling berharga tidak selalu berada di tengah kota yang ramai, tetapi justru tersembunyi di desa-desa pesisir yang tenang seperti Botuboluo. Potensi itu telah lama terpendam, seperti sebuah cerita lama yang menunggu untuk diceritakan. Kini, melalui geliat festival yang keempat ini, halaman pertama cerita itu mulai terbuka, mengundang siapa saja untuk membacanya, merasakannya, dan pada akhirnya, turut serta menulis kelanjutannya. Bukan hanya sebagai wisatawan, tetapi sebagai bagian dari upaya menjadikannya sebuah tumpuan ekonomi yang berkelanjutan, yang lahir dari rasa memiliki dan kekaguman akan sebuah potensi yang akhirnya menemukan cahayanya.
