Editorial:
Suasana di Kantor Dewan Pimpinan Wilayah (DPW) Partai NasDem Provinsi Gorontalo pada Senin malam, 15 Desember 2025, tidak hanya diisi oleh khidmatnya sebuah seremonial. Di balik penyerahan Surat Keputusan yang resmi, tersimpan narasi yang lebih dalam tentang sebuah partai politik yang sedang berada dalam momentum puncaknya, berusaha mengonsolidasi kemenangan dan mengarahkan pandangannya ke horizon politik yang baru. Roman Nasaru, untuk kedua kalinya, ditetapkan sebagai Ketua Dewan Pimpinan Daerah (DPD) Partai NasDem Kabupaten Gorontalo, memegang kendali untuk periode 2025 hingga 2029.
Ceremony itu dipimpin langsung oleh Sekretaris DPW NasDem Gorontalo, Ridwan Monoarfa, di hadapan jajaran pengurus dan kader yang memenuhi ruangan. Suasana kebersamaan yang tercipta malam itu adalah sebuah cermin cermin yang memantulkan kebanggaan atas pencapaian, tetapi sekaligus menjadi refleksi untuk tugas berat ke depan. Roman, dalam sambutannya, tidak banyak berpanjang lebar. Ia segera menancapkan komitmennya pada dua hal mendasar: memperkuat soliditas internal partai dan menyiapkan struktur hingga ke tingkat desa. Pernyataan ini seperti sebuah mantra yang disadari betul maknanya; bahwa fondasi kekuatan politik yang hakiki tidak hanya terletak pada kursi di dewan atau balai kota, tetapi pada seberapa dalam akarnya menancap di setiap kampung dan desa.
“Kami akan terus bekerja keras mewujudkan NasDem sebagai partai yang dekat dengan rakyat,” ujar Roman Nasaru dengan optimisme yang terukur. Kata-kata itu bukan lagi sekadar jargon kampanye. Ia kini berubah menjadi janji yang harus dipertanggungjawabkan, terutama karena NasDem di Gorontalo kini berada dalam posisi yang sangat berbeda,perahu jumlah suara terbanyak. Di bawah kepemimpinan Roman Nasaru sebelumnya, partai ini telah mencatatkan sebuah trilogi kemenangan yang impresif: dari empat kursi DPRD pada 2019, melonjak menjadi enam kursi pada 2024, dan yang paling gemilang, memenangkan Pilkada kabupaten Gorontalo 2024 dengan kader NasDem, Sofyan Puhi, yang kini menduduki kursi Bupati.
Inilah konteks baru yang membalut kepemimpinan Roman Nasaru periode kedua. Ia tidak lagi memimpin partai penantang, melainkan pengelola kemenangan. NasDem kini memegang kendali eksekutif dan memiliki pijakan legislatif yang lebih kuat.
Dalam arahannya, Ridwan Monoarfa dari DPW Provinsi menghimbau pada konsolidasi dan kerja kolektif untuk “menjaga marwah partai sebagai gerakan perubahan” adalah siraman nasihat yang tepat pada waktunya. Ia menyebut malam itu sebagai “momentum penting untuk menatap tahun-tahun politik ke depan dengan semangat baru.” Pesannya jelas: jangan biarkan kesuksesan membuat lengah, karena panggung politik 2029 sudah mulai terlihat di kejauhan.
Roman Nasaru mengumumkan bahwa pelantikan resmi pengurus akan digelar awal 2026, dipimpin langsung oleh Ketua DPW, Kaka Rachmat Gobel. Ini adalah simbol legitimasi dan dukungan penuh dari struktur partai di level provinsi, sekaligus penanda dimulainya kerja nyata. Agenda penyiapan struktur hingga ke desa yang diucapkan Roman akan menjadi ujian pertama dan terberat. Apakah struktur itu akan menjadi jaringan pelayanan dan aspirasi yang hidup, atau hanya sekadar kerangka statis untuk mobilisasi suara semata?
perjalanan NasDem kabupaten Gorontalo di bawah Roman Nasaru babak kedua ini baru saja dimulai dengan sebuah halaman pengantar yang penuh capaian. Malam penyerahan SK itu adalah garis antara fase “berjuang merebut” dengan fase “bijak mengelola.” Tantangannya kini bergeser: bukan lagi bagaimana memenangkan pertarungan, melainkan bagaimana mempertahankan kepercayaan, mengelola kekuasaan dengan arif, dan membuktikan bahwa kemenangan elektoral mampu diterjemahkan menjadi kesejahteraan yang nyata bagi masyarakat di kabupaten Gorontalo. Di pundak Roman Nasaru dan jajaran barunya, terletak tugas untuk menulis babak selanjutnya,sebuah babak di mana partai yang “dekat dengan rakyat” harus membuktikan kedekatan itu bukan hanya retorika, tetapi realitas yang dirasakan di setiap tingkat kehidupan.