editorial:
Di balik dinamika politik dan birokrasi Indonesia, sering kali tersembunyi relasi-relasi personal yang mendahului dan membingkai hubungan formal. Hubungan antara Gubernur Gorontalo, Dr. Gusnar Ismail, dan Direktur Utama Garuda Indonesia, TNI (Purn) Glenny Kairupan, adalah salah satu contohnya. Fakta yang kurang diketahui publik adalah bahwa Gusnar Ismail pernah menjadi murid dari Glenny Kairupan saat menjalani pendidikan di Lembahan Ketahanan Nasional (Lemhannas). Ikatan Guru-murid ini telah terbangun jauh sebelum Gusnar Ismail menjadi Gubernur Gorontalo saat ini,
Sebagai purnawirawan TNI Angkatan Udara asal Minahasa, Sulawesi Utara, Glenny Kairupan bukan hanya seorang profesional di bidang penerbangan, tetapi juga merupakan salah satu elite Partai Gerindra dan dikenal sebagai sahabat dekat Presiden Prabowo Subianto dari Minahasa. Kombinasi posisi strategisnya di BUMN dan jaringan politiknya ini menjadikan setiap pertemuannya dengan pemimpin daerah adalah sebuah peristiwa yang sarat makna, baik secara teknis maupun simbolis.
Pertemuan hangat keduanya di Jakarta pada 19 November 2025 lalu bukan sekadar rapat kerja biasa. Atmosfernya diwarnai oleh nuansa rekoleksi dan rasa hormat seorang mantan siswa kepada gurunya. Dalam pertemuan itu, Gubernur Gusnar Ismail mengangkat sebuah tantangan konkret, kesiapan Gorontalo menyambut Pekan Nasional (Penas) Petani dan Nelayan ke-XVII tahun 2026. Event Nasional yang mengusung tema “Transformasi Teknologi Dalam Mendukung Swasembada Pangan Nasional” ini diperkirakan akan mendatangkan sekitar 30 ribu peserta dari seluruh Indonesia. Lonjakan permintaan transportasi udara menjadi konsekuensi logis yang mengkhawatirkan bagi daerah.
ketersediaan dan kelancaran armada udara inilah yang menjadi inti pembahasan. Gusnar Ismail, dengan beban tanggung jawab sebagai tuan rumah, menyampaikan kekhawatiran sekaligus harapannya. Di sisi lain, Glenny Kairupan menyambut baik paparan tersebut dan langsung merespons dengan komitmen dukungan. Respons ini tentu tidak lahir dari pertimbangan bisnis semata, melainkan juga disemangati oleh hubungan emosional dan pengertian mendalam terhadap pentingnya peristiwa nasional tersebut bagi pembangunan daerah di Gorontalo.
Pertemuan ini merupakan miniatur dari bagaimana governance di Indonesia sering kali dijalankan. Di satu sisi, ada prosedur formal dan kebutuhan publik yang mendesak seperti infrastruktur transportasi untuk event nasional. Di sisi lain, ada jaringan informal, sejarah hubungan pribadi, dan mutual respect yang dapat memperlancar atau memengaruhi pengambilan keputusan strategis.
Ketika gubernur Gusnar Ismail menerima cenderamata dari Gurunya, yang terlihat bukan hanya sebuah formalitas, melainkan pengakuan akan sebuah perjalanan panjang bersama yang kini bermuara pada kolaborasi untuk kepentingan rakyat Gorontalo.
Ini adalah sebuah cerita tentang bagaimana jejaring, mentorship, dan kesetiaan pada hubungan personal dapat bertransformasi menjadi modal sosial yang efektif untuk menjawab tantangan pembangunan. Keberhasilan event Penas 2026 nanti, khususnya dari sisi logistik udara, mungkin akan menjadi bukti nyata bahwa di balik meja rapat yang penuh data, sering kali ada ruang untuk mengingat bahwa seseorang di seberang meja itu pernah menjadi guru, dan yang lain pernah menjadi murid yang penuh harap.